Setelah membaca Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday

 


Saya mulai menulis catatan ini setelah menyelesaikan bagian Duri dalam novel Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday. Cicilia menulis dengan cara yang tenang dan jernih. Pembaca bisa memahami tokoh-tokohnya—Eva, Adam, dan Sara—tanpa harus melewati kalimat yang rumit atau kata-kata yang berlebihan. Keindahan prosa Cicilia justru muncul dari ketepatan dan kesederhanaan, bukan dari metafora yang ramai.

Setelah membaca Duri dan Kutuk, saya semakin memahami ketertarikan saya. Novel ini banyak berbicara tentang psikologi manusia, terutama remaja, keluarga, dan orang-orang yang hidup di pinggir norma. Tokoh utama dalam bagian ini adalah Adam, remaja laki-laki berusia 13 tahun. Ia menghadapi berbagai persoalan: kebiasaan mengintip dan berfantasi seksual, mencuri, serta mengalami perundungan. Masa remaja memang masa yang paling rapuh. Tanpa pendampingan, kebingungan ini bisa berubah menjadi perilaku yang bermasalah.

Adam tumbuh dalam keluarga yang secara emosional kurang hadir. Orang tuanya, Sara dan Anwar, sibuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti ini, perhatian emosional sering kali terabaikan. Orang tua merasa anak mereka baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.

Cicilia juga menyinggung kehidupan daring remaja yang nyaris tanpa pengawasan. Masalahnya bukan hanya soal durasi bermain gawai, tetapi juga konten yang mereka lihat, termasuk pornografi. Tanpa pendampingan, paparan ini bisa mengacaukan cara remaja memahami tubuh, hubungan, dan batasan. Dalam konteks ini, kebiasaan Adam mengintip dan melakukan onani berulang bisa dibaca sebagai dampak kecanduan pornografi. Ini menunjukkan cara berpikir yang terbentuk dari pornografi: perempuan dibayangkan selalu mau dan selalu siap.

Cerita Adam menjadi semakin rumit dengan kehadiran Eva, tetangga yang ganjil dan berada di batas antara manusia dan bukan manusia. Tubuh Eva ditumbuhi pucuk-pucuk daun. Setiap minggu ia harus mencabutnya agar tidak sepenuhnya berubah menjadi pohon. Eva adalah anak dari manusia dan pohon jati. Sejak awal, tubuh Eva sudah dianggap salah. Tubuh yang tidak sesuai norma ini membuatnya mudah menjadi sasaran tatapan, kecurigaan, dan stigma.

Adam sering mengintip Eva dari loteng rumahnya menggunakan teropong curian. Ia melihat Eva telanjang saat mencabut daun dan ranting dari tubuhnya. Ketelanjangan Eva bukan sesuatu yang erotis, melainkan tanda kerentanan yang sangat dalam. Menariknya, hukuman dalam cerita ini tidak datang dari manusia, melainkan dari mawar-mawar di kebun Eva. Merekalah yang mengutuk Adam, membuat kelaminnya terluka dan tubuhnya demam. Dalam logika novel ini, justru alam yang menjaga batas moral. Namun yang bikin sedih seperti kenyataan yang terjadi sekarang ketika alam marah, yang sering menjadi korban bukanlah pelaku utama, melainkan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang tak bersalah.

Ia langsung menyimpulkan bahwa anaknya telah dilecehkan oleh Eva. Ia tidak mau mendengarkan Eva dan tidak mau melihat perilaku anaknya sendiri. Sara membangun cerita sederhana tentang korban dan pelaku, lalu menyebarkannya. Di titik ini, karakter Sara terasa paling bermasalah. Ia lebih memilih anaknya dilihat sebagai korban pelecehan daripada menerima kenyataan bahwa Adam mengintip dan beronani. Yang ia lindungi bukan keselamatan anaknya, melainkan muka dan posisi moralnya di mata orang lain. Sikap ini sebenarnya sangat manusiawi. Ketika orang yang kita sayangi melakukan hal buruk, ada dorongan kuat untuk menolak kenyataan itu. Tanpa sadar, rasa sayang dan moral pribadi bercampur, lalu membuat kita mengubah posisi orang yang bersalah menjadi korban.

Menurut saya, Duri dan Kutuk bukan hanya novel tentang keanehan. Ia adalah cerita tentang rangkaian kegagalan: kegagalan keluarga, kegagalan masyarakat membaca perbedaan, dan kegagalan manusia menjaga hubungan dengan alam dan sesamanya. Novel ini mengajak pembaca bercermin, bukan pada yang aneh, tetapi pada cara kita memperlakukan mereka yang rapuh.


Tidak ada komentar