Kenangan tentang Om saya, Yosef Maria Florisan, yang biasa kami panggil Om Josi, muncul begitu saja seperti gelombang besar yang tiba-tiba menghantam pasir dan kerikil pantai ketika saya menyaksikan misa penguburannya melalui YouTube. Di Ruteng sedang hujan, dan entah mengapa rintiknya seperti ikut menambah berat kesedihan. Ada begitu banyak hal yang saya ingat tentang Om saya.
Saat saya kecil, kira-kira usia tujuh atau delapan tahun, ia pernah mengatakan bahwa saya punya ngis banca, gigi besar seperti sekop kecil bernama tofa. Sepintas itu terdengar kejam, body shaming. Namun cara ia menyampaikannya sangat jenaka, tanpa niat melukai, dan justru membuat saya tertawa. Seperti cubitan kecil yang tidak meninggalkan nyeri, hanya kenangan.
Kenangan berikutnya muncul saat saya SMP. Om sedang pulang libur dari Maumere, dan kami membahas seorang kerabat yang sudah meninggal dunia.
“Kasihan dia mati di usia muda,” ujarnya.
“Mati kan untuk hewan, seharusnya meninggal dong, Om,” kata saya.
“Coba kau cari di Alkitab, apakah ada kata meninggal di sana?”
Saya pulang ke rumah, membuka Alkitab, dan memang tidak menemukan kata meninggal. Sejak saat itu saya belajar bahwa bahkan bahasa tentang kematian pun menyimpan makna iman.
Hubungan kami cukup dekat. Saya adalah ponakan perempuan pertamanya, dari kakak sulungnya. Dari cerita Nenek saya, Martina, Om dan Mama saya memiliki karakter yang sangat berbeda. Om rajin dan disiplin, sementara Mama saya gemar membaca. Perbedaan itu membuat mereka sering bertengkar saat kecil. Namun masa remaja Om tidak banyak dihabiskan di rumah. Selepas SD ia masuk Seminari Kisol, tinggal di sana selama enam tahun, lalu menjadi frater di Ledalero. Setelah keluar dari frater dan menikah dengan Tanta Venti, ia menetap di Maumere hingga akhirnya dimakamkan di sana.
Om Josi sangat mencintai Maumere dan mungkin bahkan lebih daripada Ruteng. Saya ingat betul sebuah foto dirinya bergandengan tangan dengan Paus Yohanes Paulus II ketika Paus berkunjung ke Indonesia dan Maumere pada tahun 1989. Foto itu selalu ia banggakan.
“Orang lain pergi melihat Paus ke Roma,” katanya, “saya saja yang didatangi Paus di Maumere.”
Usia kami terpaut dua puluh tiga tahun. Kami tidak terlalu sering bertemu karena ia memilih menetap di Maumere. Namun ia tetap pulang setahun sekali bersama istri dan anak-anaknya, meski kemudian semakin jarang. Interaksi kami berlanjut lewat grup WhatsApp keluarga dan percakapan pribadi.
Bagi saya, Om Josi adalah sosok yang bijak. Ia tidak pernah menghakimi. Ia selalu mengajarkan untuk memaafkan. Baginya setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar, berhenti menyalahkan orang yang melukai kita dan mencari solusi terbaik. Ia juga tidak tertarik pada hal-hal superfisial seperti perdebatan politik. Siapa pun presidennya, katanya, kita terima dengan lapang dada.
Sebagai mantan frater, ia adalah Katolik yang taat. Bagi Om Josi menjadi Katolik bukan soal simbol, melainkan perilaku, bagaimana kita berbuat baik kepada sesama. Ia sangat menghormati Bunda Maria dan selalu menyuruh saya berdoa novena tiga kali Salam Maria. Namun ia juga menghargai semua agama dan yakin siapa pun bisa masuk surga jika menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Yang jelas ia selalu menekankan pentingnya doa, terutama sejak memasuki usia lima puluh tahun.
Sembilan hari sebelum kabar kelulusan LPDP untuk PhD saya pada 2023, saya sempat menyampaikan rencana itu kepadanya. Ia tersenyum dan berkata,
“Novena tiga kali Salam Maria, Nona.”
Kepergiannya pada 5 Januari lalu membuat saya berduka dan mengalami tahapan duka yang datang silih berganti seperti ombak. Denial, mengapa ia meninggal semuda itu. Lima puluh delapan tahun terasa terlalu cepat. Anger, mengapa saya tidak lebih sering menghubunginya. Bargaining, andaikan saya lebih rajin menyapanya atau lebih keras menegurnya soal rokok, mungkinkah ia hidup lebih lama. Depresi, kehilangan itu sendiri, dan empati mendalam kepada Nenek saya, Martina, yang di usia delapan puluh tahun harus kehilangan anak laki-laki yang ia kasihi.
Nenek saya telah menghadapi banyak kehilangan, anak bungsunya, suaminya, dan kini anak laki-lakinya. Kehilangan-kehilangan itu seperti luka berlapis yang tidak pernah benar-benar sembuh, namun juga tidak membuatnya runtuh. Saya yakin Nenek akan tetap kuat, terutama karena ia adalah seorang perempuan yang rajin berdoa dan menyerahkan seluruh kesedihannya kepada Tuhan, seperti meletakkan beban di altar lalu pulang dengan langkah perlahan tapi tegak.
Perlahan saya merasa telah memasuki tahap acceptance, terutama ketika mengingat kembali percakapan kami suatu waktu. Saat itu saya sedang bersama Om dan saya. Saya lupa kapan tetapi saya ingat berkata,
“Kasihan ya mereka yang sudah meninggal dunia, seperti Nene Pa,” Nene Pa adalah panggilan kami untuk kakek saya, ayahnya.
Om saya tersenyum dan berkata tenang,
“Untuk apa kasihan pada orang yang sudah meninggal? Mereka sudah bahagia bersama para kudus di surga. Kasihan itu kita yang masih berjuang.”
Kalimat itu kini menjadi jangkar yang menahan saya agar tidak terus terseret arus penyesalan. Saya yakin Om saya telah berbahagia. Setiap kali kami berdoa rosario bersama, ia selalu menutup doa dengan memohon perlindungan santo pelindung masing-masing. Dan Yosef Maria, nama orang tua Yesus, ada di dalam namanya. Sepertinya bukan kebetulan. Ia memancarkan kebijaksanaan dan ketabahan seperti Keluarga Kudus, diam, setia, dan teguh.
Kini giliran saya yang mendoakannya. Saya tahu ia selalu bangga kepada saya, ponakannya dan selalu mendoakan saya selama ini. Saya ingat selalu meminta doa padanya untuk hal pelik dalam hidup saya, Ujian skripsi, ujian thesis, kelulusan LPDP saat S3 kemarin. Kini, biarlah saya membalas kecuekan saya yang jarang mengirim pesan dengan doa setiap hari untuknya. Sebab ia pernah berkata, hal terpenting yang bisa kita lakukan bagi mereka yang telah meninggal adalah mendoakan mereka.
Istirahatlah dalam damai, Omku tersayang. Jadilah pendoa bagi kami, bagi Tanta Venti, Nong Ua, Nong Al, Pram, dan tentu saja bagi ibumu, Martina.
---.

Tidak ada komentar