Mari membahas kasus pelecehan oleh seorang pastor kepada mahasiswanya lebih dalam. Saya mengutuk perbuatan pelaku, tidak ada tawar-menawar soal itu. Namun yang membuat saya lebih terkejut justru bagaimana spekulasi tentang korban menyebar begitu liar. Foto wajahnya beredar di mana-mana, bahkan sampai masuk di grup kelas anak SMA. Melihat itu, saya benar-benar bertanya dalam hati: ada apa sebenarnya dengan masyarakat daerah saya? Kenapa begitu getol mencari tahu urusan orang lain?
Apakah karena ingin memperjuangkan keadilan?
Atau karena senang melihat kampus terbesar di Manggarai ikut tercoreng?
Atau jangan-jangan ada dendam pribadi terhadap pelaku?
Atau… ya, mungkin memang kurang kerjaan.
Yang jelas, banyak penelitian psikologi bilang, orang yang terlalu sibuk membahas keburukan orang lain biasanya sedang menghindari masalahnya sendiri. Ada teori social comparison, bahwa kita merasa lebih baik saat melihat orang lain jatuh. Ada juga schadenfreude, rasa puas melihat orang lain tersandung, apalagi kalau orang itu figur moral seperti pastor atau dosen. Kemarahan moral pun kadang berubah jadi hiburan: orang nikmati sensasi merasa paling benar, tanpa memikirkan akibatnya.
Dan akibat yang paling besar tentu jatuh ke korban. Dalam kasus seorang pastor sekaligus dosen yang melecehkan mahasiswinya, viralnya kasus ini malah membuat korban kembali dijadikan bahan konsumsi publik. Foto dan namanya beredar tanpa izin, ditambah berbagai spekulasi menyudutkan. Inilah yang disebut secondary victimization, korban disakiti lagi oleh masyarakat. Padahal penyebaran foto tanpa izin itu sendiri sudah termasuk kekerasan digital.
Kadang saya berpikir, kenapa energi sebesar itu tidak dipakai untuk hal yang benar-benar penting? Misalnya menciptakan ruang aman di kampus, mengedukasi mahasiswa soal perilaku predator, atau memastikan korban mendapat dukungan, bukan tambahan luka. Karena kalau dipikir-pikir, gosip dan spekulasi tidak pernah menyelesaikan apa pun. Yang ada cuma menambah sakit hati orang yang sebenarnya paling membutuhkan perlindungan.
Karena itu, bijaklah. Bijaklah menjadi manusia. Jangan sampai keisengan dan kedingintahuan membuat kita pelaku yang menyudutkan korban
Tidak ada komentar